10/13/2009

Bra Untuk Persiapan Menyusui

Sejak hamil, sel-sel di payudara sudah bersiap memproduksi ASI, sehingga tampak berisi. Puting juga semakin lembut dan sensitif, sementara areola juga semakin berwarna gelap, bahkan kadang-kadang disertai dengan sedikit nyeri.
Ada beberapa hal yang dapat dilakukan agar payudara tetap sehat dan prima menjalankan fungsinya setelah melahirkan.
Trik memilih / membeli bra penting memperhatikan :
1.Dapat dipilih dari bahan nyaman yang dapat menyerap keringat.
2.Meyangga dengan baik. Pilih yang bertali lebar, seperti sport bra. Bra dengan jaitan belakang biasanya lebih kuat menahan payudara.
3.Bijak menggunakan bra berkawat. Bra berkawat tetap dapat dipakai ibu hamil, namun tidak diperkenankan yang kekecilan karena dikhawatirkan akan menekan dan mengganggu saluran ASI, sehingga menghambat produksi ASI. Juga, sebaiknya jangan terlalu lama mengenakannya.
4.Memilih ukuran yang pas. Memilih yang pas dan nyaman dikenakan, misalnya tidak naik turun ketika dipakai (karena longgar), juga tidak membuat sesak nafas (akibat terlalu sesak). Berfungsi sekaligus untuk menyusui. Jika membeli bra pada kehamilan trimester ke-3, dapat sekaligus memilih bra bermodel berjendela untuk memudahkan menyusui.

Merawat puting
Perawatan puting bertujuan untuk menjaga agar bagian puting tetap bersih dan menonjol, sehingga memudahkan proses menyusui. Namun, mengingat perawatan ini bisa memicu produksi hormon oksitosin, yang dapat menyebabkan timbulnya kontraksi rahim, maka perawatan puting payudara biasanya dianjurkan ketika kehamilan sudah menginjak usia 37 minggu ke atas. Jadi, jika terjadi sesuatu, maka bayi sudah dapat hidup di luar inkubator. Membersihkan puting dengan air hangat setelah mandi. Dapat menghindari dengan sabun karena akan menyebabkannya kering dan pecah-pecah, sehingga terasa perih.
Untuk menjaga agar puting tetap menonjol serta sel-sel kulit mati terlepas dari puting, dapat dilakukan hal-hal berikut :
1.Oleskan baby oil, minyak zaitun atau minyak kelapa ke ujung telunjuk dan ibu jari kanan.
2.Jepitlah puting dengan telunjuk dan ibu jari yang sudah diolesi dengan minyak tadi.
3.Melakukan gerakan memutar secara bolak-balik dengan arah berlawanan.
Melakukan hal seperti itu pada puting payudara yang lain.
4.Jika puting melesak ke dalam, dapat membeli alat khusus yang ditempelkan di seputar puting. Mungkin perlu melakukannya selama berminggu-minggu, atau sesuai petunjuk dokter, agar puting dapat terbentuk menonjol. Diharapkan bagian yang menonjol ini dapat berfungsi dengan baik ketika menyusui.
Nah, pada saat hamil ternyata urusan bra tidak hanya sekedar cocok ukurannya, namun juga memperhatikan proses yang sedang terjadi dengan kelenjar susu juga perubahan fisik payudara.
READ MORE - Bra Untuk Persiapan Menyusui

Hiperemesis Gravidarum


Hiperemesis gravidarum digambarkan sebagai muntah dalam kehamilan yang cukup berat yang dapat menimbulkan kehilangan berat badan, dehidrasi, asidosis , alkalosis karena kehilangan asam hidroklorida saat muntah, dan hipokalaemia.1 Semua gejala ini   tidak terlalu penting untuk diagnosa. Ketonuria ringan sampai sedang didapat dari analisis urin. tinggi atau cepat meningkatnya steroids berperan dalam etiologi, dan peningkatan enzim hati 15%-25% pada wanita yang dirawat.2 Peningkatan kadar enzim tidak selalu lebih dari empat kali batas normal. Faktor resiko pada jenis kelamin dan populasi berbeda menurut keturunan, kehamilan sebelumnya, dan konsumsi makanan berlemak sebelumnya merupakan resiko lebih tinggi.3-5 Di samping faktor ini, penyakit gestational trophoblastic, kehamilan kembar, dan psikologi pasien merupakan perhatian utama lainnya.
tingkatan serum Amilase telah dilaporkan meningkat pada beberapa pasien dengan hyperemesis gravidarum, dan amylase ini berasal dari kelenjar saliva tapi  bukan dari pancreas.6 Faktor Imunologis seperti imun globulins, C3, C4, dan jumlah lymphocyte lebih tinggi pada hyperemesis gravidarum, yang diduga berperan pada aktivitas imunologis selama kehamilan.7 Jika terdapat tirotoksikosis pada hiperemesis, berarti konsentrasi serum - gonadotrophin khorionik manusia ( hCG), IgG, dan IgM meningkat. Faktor ini mungkin akibat efek stimulasi dari serum hCG. Hubungan antara hiperemesis dan konsentrasi serum Prostaglandin E2 maternal masih diteliti.8 pengosongan lambung dan usus mungkin tertunda saat kehamilan oleh karena hormonal atau faktor mekanik. Tetapi, sebaliknya, pengosongan yang berhubungan dengan lambung oleh zat padat tidak berubah selama kehamilan.9 Bagaimanapun, pasien dalam proses penyembuhan pada hyperemesis gravidarum, waktu pengosongan padat ditemukan meningkatkan, berhubungan dengan hormon tiroid yang abnormal
Peran serotonin ( 5-hydoxytryptamine) masih diteliti, tetapi tidak ada hubungan antara peningkatan sekresi serotonin dan hiperemesis gravidarum .11 Bagaimanapun, beberapa subtipe sel serotonin menunjukkan emesis.12 Infeksi/peradangan Helicobacter pylori dilaporkan berhubungan dengan hiperemesis gravidarum.13 14 Konsentrasi serum IgG terhadap H pylori lebih tinggi pada pasien dengan hiperemesis gravidarum dibandingkan dengan wanita-wanita hamil asimptomatik Mual muntah yang persisten pada trimester kedua perlu dicurigai suatu peptic ulcer aktip disebabkan oleh H pylori.

HIPEREMESIS GRAVIDARUM DAN TIROID

 Fungsi tiroid berubah selama kehamilan: thyroxine yang mengikat globulin, konsentrasi total triiodothyronine dan thyroxine, thyroglobulin, dan renal iodine clearance semuanya meningkat. Juga aktifitas hCG.17  Transient hyperthyriodism terdapat sekitar 60% pada pasien dengan hyperemesis gravidarum.18 19 Peningkatan hormon tiroid berhubungan dengan peningkatan konsentrasi hCG, atau hipersensitifitas reseptor sel thyrotrophin hCG pada overaktif tiroid.20 atau peningkatan sekresi dari suatu varian hCG.21 Pasien dengan transient hyperthyroidism tidak menderita penyakit tiroid sebelumnya, goiter pada umumnya tidak ada, dan antibodi tiroid negatifl negatif. Pasien ini umumnya didapatkan test fungsi hati abnormal. Muntah yang berat mengakibatkan stimulasi tiroid meningkat dan konsentrasi hCG menjadi lebih tinggi.22 40%-70% Transient  Hiperthyroidism terjadi abnormalitas fungsi tiroid dalam kehamilan dan pada umumnya terjadi pada kehamilan 18 minggu tanpa perawatan dan sequelae.23. Hanya sebagian kecil pasien ini mempunyai klinis tirotoksikosis dan barangkali ini merupakan suatu varian molekular hCG.21 yang lebih kuat.  Di samping hiperemesis gravidarum yang terjadi selama kehamilan yang pertama, rekurensi dalam dua kehamilan berikutnya juga telah dilaporkan.24 Hiperemesis gravidarum yang terdapat pada tiga kehamilan berurutan dan transient hiperthyroidism yang didiagnosis juga telah dilaporkan. Suatu varian hCG yang dimodifikasi dipertimbangkan berperan dalam kejadian ini.



KOMPLIKASI HIPEREMESIS GRAVIDARUM

 Komplikasi yang terjadi akibat hiperemesis gravidarum seperti kehilangan berat badan, dehidrasi, asidosis dari kekurangan gizi, alkalosis, hipokalaemia, kelemahan otot, kelainan elektrokardiografik, tetani, dan gangguan psikologis merupakan komplikasi yang ringan. Komplikasi yang mengancam kehidupan meliputi ruptur oesophageal berkaitan dengan muntah yang berat, Encephalopathy Wernicke's, mielinolisis pusat pontine, retinal haemorrhage, kerusakan ginjal, pneumomediastinum secara spontan, keterlambatan pertumbuhan di dalam kandungan, dan kematian janin.25-33 Seorang pasien dengan hiperemesis gravidarum telah dilaporkan telah mengalami epistaksis pada minggu ke 15 kehamilannya dikarenakan kurangnya intake/masukan vitamin K disebabkan karena emesis yang berat dan ketidak-mampuannya untuk mencernakan makanan padat dan cairan.34 Penggantian vitamin K, parameter koagulasi kembali ke normal. Vasospasme pembuluh darah cerebral dihubungkan dengan hiperemesis gravidarum dilaporkan pada dua pasien.35
 Vasospasme didiagnosis dengan menggunakan resonansi magnetik (MRI)  imaging angiography

MANAJEMEN HIPEREMESIS GRAVIDARUM

 Penggantian cairan dan elektrolit secara parenteral merupakan terapi awal pada hiperemesis gravidarum. Berbagai antiemetics diberikan dengan supplementasi vitamin. Promethazine, prochlorperazine, chlorpromazine, meclizine, droperidol-diphenhydramine, dan metoclopramide biasanya digunakan untuk mengurangi mual dan muntah. Intravena atau perektal dapat digunakan pada awalnya dan berubah peroral ketika gejala mulai membaik. Jika tidak ada perbaikan dalam beberapa hari dan gejala menetap atau mendingkat, gastroenteritis, cholecystitis, pancreatitis, radang hati, ulkus peptik, pyelonephritis, dan perlemakan hati saat kehamilan, harus dilakukan diferensiasi diagnosis dan pasien harus dievaluasi lebih dalam. Dukungan psikologis dari  dokter dan  keluarga pasien adalah suatu manajemen terapi. Pasien harus menghindari bau dan makanan  tidak diinginkan yang akan mencetuskan muntah.
Setelah keluar dari rumah sakit, kadang sindroma ini terulang dalam beberapa pasien dan perawatan kembali mungkin diperlukan.36 Di samping pengobatan antiemetik, pyridoxine nampak  lebih efektif dalam mengurangi mual muntah yang berat.37 Hormon adrenokortikotrophik tidak mempunyai keuntungan.38 Tetapi jahe ditemukan dapat mengurangi atau menghilangkan gejala hyperemesis gravidarum tanpa efek samping.39  Efek jahe yang mutagenik tidak ditemukan dalam tubuh manusia. Risiko kelainan kongenital yang menggunakan obat anti alergi pada trimester pertama dilakukan dengan  mengevaluasi 24 studi dengan menyertakan lebih dari 200 000 wanita.40 Odd ratio pada malformasi mayor 0.76 ( 98% interval kepercayaan 0.60-0.94). Tidak ada peningkatan resiko teratogenik yang ditemukan, dan obat anti alergi (antihistamin) aman digunakan selama kehamilan. Pada evaluasi 50 pasien dengan hiperemesis gravidarum, penambahan diazepam dan vitamin dilaporkan efektip mengurangi nausea.41 tidak ada efek teratogenik penggunaan diazepam ini. Tetapi harus diingat diazepam adalah suatu obat kelas D  menurut Food and Drug Administration dan harus digunakan di perhatian dan mungkin dihindarkan sebagai suatu perawatan awal

OBAT YANG LEBIH BARU

 Droperidol infus dan dipenhidramine bolus intravena dipelajari pada hiperemesis gravidarum dan dibandingkan dengan pasien lain yang tidak diterapi dengan obat ini (plasebo).42 Kelompok studi mempunyai waktu perawatan yang lebih pendek di rumah sakit dengan lebih sedikit perawatan ulangan. Terapi Droperidol-Diphenhydramine lebih menguntungkan dan hemat biaya. Ondansetron adalah suatu reseptor 5-hydroxytryptamine yang antagonis yang digunakan untuk mencegah mual muntah yang berat selama penggunaan kemotherapi dan  sesudah operasi . Dan merupakan obat kategori B tetapi pada umumnya dihindarkan penggunaan pada trimester pertama. Meskipun serotonin tidak merupakan implikasi pathogenesis hiperemesis gravidarum,11 ondansetron dapat digunakan pada kasus yang refractory. Tidak ada efek kurang baik untuk ibu maupun  janin pada penggunaan jangka pendek dalam tiap-tiap trimester.43 Sebaliknya, tidak ada manfaat pengunaan kombinasi dengan promethazine.44 Tidak ada perbedaan dalam menghilangkan mual muntah, terhadap berat badan dan lamanya perawatan. Steroids mungkin  digunakan sebagai suatu alternatif terapi. Dilaporkan pertama kali tahun 1953 bahwa terapi kortison dapat menghentikan hiperemesis.45
Sejak itu, berbagai format perapi telah digunakan. methylprednisolone, 16 mg tiga kali sehari, selama 2 minggu lebih efektif dibandingkan dengan promethazine.46 . Berat lahir dan Apgar score tidak berbeda. Efek obat melalui daerah kemoreseptor trigger zone. Pengobatan dimulai dari perawatan di rumah sakit dan dilanjutkan pada pasien rawat jalan. Pada suatu studi hydrocortisone IV yang diikuti dengan prednisolone oral pada tujuh pasien dengan hiperemesis gravidarum berat,47 mual muntah dapat dihentikan dalam tiga jam  dan gejala lain dapat hilang dalam beberapa hari.
Nutrisi secara parenteral diperlukan pada kasus berat.48 Pemberian enter adalah suatu pendekatan alternatif setelah gejala akut mereda.49 50 Bentuk nutrisi ini harus dipertimbangkan pada pasien yang tidak bisa makan peroral di samping perawatan antiemetik. Kadang-Kadang sulit bagi pasien untuk makan dengan mual muntah yang berat. Hsu et al menggunakan suatu pemberian makan dengan tabung nasogastrik pada tujuh wanita dengan hiperemesis berat untuk tambahan makanan dan cara ini efektip membebaskan gejala hiperemesis gravidarum. Maternal dan outcome janin pada hiperemesis gravidarum diselidiki pada dua studi yang berbeda menyertakan 193 dan 138 pasien.51 52 193 pasien, 24% memerlukan perawatan rumah sakit dan satu pasien memerlukan nutrisi secara parenteral. Berat lahir, usia gestational , prematuritas, Apgar score, kematian perinatal, dan timbulnya kelainan pada janin tidak berbeda antara pasien hiperemesis dan populasi yang umum. Pada studi yang lain, tidak ada peningkatan resiko pertumbuhan janin terhambat, kelainan kongenital, dan prematuritas yang dideteksi. Kesimpulannya, mual muntah adalah umum selama kehamilan tetapi hiperemesis gravidarum terjadi pada 1-20 pasien dari 1000 kehamilan.30 Kebanyakan pasien memerlukan hospitalisasi dan antiemetik dan bahkan terapi steroid jangka pendek. Kesulitan serius adalah jarang tetapi terapi medis wajib. Hipertiroidisme mungkin ditemukan pada sekitar 60% pasien, tetapi tidak memerlukan terapi spesifik. infeksi/peradangan H pylori harus dipertimbangkan pada kasus yang berat dan antibiotika yang sesuai harus diberikan. pemberian makan enteral adalah suatu alternatif terapi untuk kasus yang berat.


READ MORE - Hiperemesis Gravidarum